Berita/Artikel Litbang Share Information - berita/artikel terkait litbang industri

Kampungnya Para Pengrajin Purun di Banjarmasin

0 Comments
2083
26 Jan 2017

BANJARBARU – Sejak Maret 2016 lalu, Kampung Palam Kelurahan Cempaka dicanangkan menjadi kampung purun. Selain bertani, sejak dulu warga Desa Palam memanfaatkan potensi purun yang berlimpah di desa ini menjadi sumber mata pencaharian.

Lurah Palam, Agus Adrian, prihatin purun hanya dicari dan dijual kepada pembeli sebagai bahan baku untuk membuat berbagai produk anyaman di Amuntai. Purun di daerah ini hanya dijual sebagai bahan mentah begitu saja oleh warga desa. “Coba kalau purun ini diolah menjadi berbagai produk anyaman, tentu nilai ekonomisnya akan naik. Dibandingkan hanya menjual bahan mentah berupa purunnya saja kepada pembeli,” banding Agus Adrian.

Lurah ini pun berinisiatif untuk menjadikan Palam menjadi sentra anyaman purun di Kota Banjarbaru. Dimulai dengan mencanangkan Palam sebagai kampung purun sejak Maret 2016 lalu. Berbagai upaya juga dilakukan Agus untuk mengenalkan kepada warga Kota Banjarbaru lewat berbagai produk anyaman yang diolah oleh warga Palam. Warga Palam sejak zaman nenek moyang mereka hingga sekarang jago menganyam. Tapi yang diolah hanya berupa tikar dan bakul saja, lainnya tidak.

Agus pun mengajak para perempuan yang jago menganyam di Palam untuk mengolah produk lainnya seperti besek, dompet, tas perempuan, map, dan lain sebagainya. Hasilnya sudah mulai kelihatan. Warga yang tadinya hanya berprofesi sebagai pencari purun di bekas galian tambang Galuh Cempaka sekarang bertambah lagi menjadi penganyam purun. “Imbasnya, perekonomian warga pun mulai merangkak naik sedikit demi sedikit,” ujar Agus.

Hal itu dibenarkan Salasiah (53), pencari purun di Palam. “Kami sebenarnya sudah bisa menganyam sejak dulu. Tapi, lebih banyak sebagai penjual purun yang dibeli oleh orang Amuntai seminggu sekali,” ujar Salasiah.

Kalaupun membuat anyaman, paling hanya mengolah tikar dan bakul purun saja. Itupun hanya kalau ada pesanan saja. “Sejak Agus menjadi lurah di Palam, kami diberikan pelatihan untuk membuat berbagai produk anyaman purun lainnya,” ungkap Salasiah. Dia pun mulai mengolah berbagai produk anyaman seperti map, besek, tas perempuan, dompet dan lain sebagainya.

Agus tidak hanya memberikan pelatihan menganyam saja, juga mencarikan pembeli dan pemesan produk anyaman dari warga desa. “Alhamdulillah, saya bersama warga desa, mulai banyak pesanan. Hasilnya pun lumayan. Kalau dulu kami mencari dan menjual purun hanya Rp 4 ribu perikat, sekarang dari satu ikat purun kami bisa mengolahnya menjadi 5 buah map yang dijual seharga Rp 35 ribu per unit,” kisahnya.

Salasiah bersama para warga desa lainnya masih terus belajar mengolah berbagai produk anyaman lainnya. “Kalau diberi contoh produknya, insya Allah saya bisa saja mengolahnya. Yang masih belum bisa adalah membuat hiasan dan finishing seperti produk anyaman dari Jogjakarta,” ungkapnya.
Salasiah dan warga desa lainya sangat senang bisa belajar dan mendapatkan ilmu baru dengan memanfaatkan potensi purun yang berlimpah di Palam ini. “Kami sangat mendukung Agus untuk menjadikan Palam sebagai Kampung Purun yang dikenal masyarakat dengan berbagai produk anyamannya,” tuntasnya.(nti/ma/dye)

Sumber : http://kalsel.prokal.co/

0.0
Last Modified: Senin 20 Pebruari 2017 13:50
Related Articles: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, Sumut Dorong Para Pengrajin Batik Meningkatkan Kuali Semangat Belajar dan Terus Berlatih, Para Peserta Mampu Menghasilkan Berbagai Motif dan Warna Batik
Kampungnya Para Pengrajin Purun di Banjarmasin

No Comments Yet...

Leave a reply

Your email address will not be published.