Litbang Baristand Industri Ambon - Teknologi Ketel Minyak Kayu Putih Teknologi Ketel Minyak Kayu Putih

Teknologi Ketel Minyak Kayu Putih

Produksi minyak kayu putih pada sektor industri kecil turut mempengaruhi pembangunan di Maluku yang akan memperkokoh struktur industri. Sebaran dan potensi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendra) di Indonesia cukup besar mulai dari daerah Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Bali dan Papua yang tumbuh berupa hutan alam kayu putih. Sementara itu, pohon yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat berupa hutan tanaman kayu putih (Widiyanto et al 2014). Maluku memiliki potensi pohon kayu putih sangat besar yang tumbuh tersebar di beberapa daerah, yaitu; kabupaten Buru ±120.000 ha, kabupaten Seram Bagian Barat ± 50.000 ha, Kabupaten Maluku Tenggara Barat ± 20.000 ha, dan kabupaten Maluku Tengah 60.000 ha (BPS 2015).Luas tanaman kayu putih di Indonesia telah mencapai lebih dari 248.756 hektar yang sebagian besar berada di wilayah Perum Perhutani dengan produksi tahunan mencapai 500 ton. Angka ini diperkiraan separuh dari total produksi seluruh dunia. Daun kayu putih mengandung minyak atsiri sekitar 0,5 -1,5%, rendemen yang diperoleh tergantung pada efektivitas penyulingan dan kadar minyak yang terkandung dalam bahan yang disuling.

Kebutuhan minyak kayu putih di dalam negeri sampai saat ini diperkirakan masih defisit sehingga dalam industri farmasi diperlukan produk komplementer berupa minyak eucalyptus yang diimpor dari Tiongkok dalam jumlah yang tidak sedikit. Melihat produksi minyak kayu putih yang belum memenuhi kebutuhan tersebut maka masih terbuka peluang untuk meningkatkan produksi minyak kayu putih di Indonesia dengan tingkat keterlibatan masyarakat yang lebih intensif (Kartikawati et al 2014). Minyak kayu putih dalam perdagangan internasional dikenal sebagai cajuput oil. Pasar utama bagi minyak atsiri cajuput oil antara lain Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Perancis, dan Belanda.

Penyulingan minyak kayu putih di Pulau Buru dan Seram Bagian Barat berdasarkan hasil observasi ada yang masih menggunakan ketel tradisional yang berbahan kayu dan ada yang sudah menggunakan ketel stainless. Sedangkan di Maluku Barat Daya secara keseluruhan menggunakan ketel stainless.

Penggunaan ketel berbahan kayu mempunyai kelemahan antara lain;

  1. Banyak terdapat kebocoran disela-sela sambungan antar kayu sehingga banyak uap beraroma minyak kayu putih terbuang.
  2. Warna minyak kayu putih akan berwarna kuning akibat pengaruh ketel kayu yang ikut terlarut saat terjadi proses perebusan dan penguapan, berbeda dengan penggunaan ketel stainless steel
  3. Yang memberikan warna minyak kayu putih jernih kekuningan.

Oleh karena itu, Baristand Industri Ambon melakukan rekayasa ketel minyak kayuputih stainless steel untuk mengatasi permasalahan dan kendala di atas untuk lebih meningkatkan kualitas produk minyak kayu putih lokal. Kelebihan dari ketel stainless steel hasil rekayasa Baristand Industri Ambon antara lain:

  1. Kapasitas terpasang besar hingga 200 kg
  2. Rendeman mencapai 1,2%
  3. Proses pemasakan lebih singkat (50% lebih cepat dibandingkan ketel berbahan kayu)
  4. Warna konstan (bening sampai kekuningan) karena tidak bercampur dnegan bahan ketel
  5. Kerapatan bahan padat hingga sulit terjadi kebocoran
  6. Sistem pendingin dnegan menggunakan sistem kisi-kisi sehingga lebih merata
  7. Bagian penutup memiliki desain leher angsa sehingga refluksnya kecil